BERITASANTAI.COM | Tisu Magic Abal-Abal Bikin Kaget Warga Satu RT. Kampung Damai Sentosa biasanya tenang. Paling banter, kegaduhan datang dari anak-anak main layangan atau ibu-ibu rebutan bangku arisan. Tapi minggu lalu, suasananya berubah total gara-gara satu benda kecil yang katanya “ajaib”. Bukan jimat. Bukan minyak bulus. Tapi… tisu magic—yang ternyata palsu!
Cerita bermula dari sebuah minimarket lokal yang jualan aneh-aneh. Di pojokan rak, berdampingan dengan sabun colek dan pembalut, muncul satu bungkus tisu misterius dengan tulisan besar: “TISU MAGIC SUPER KUAT. SEKALI PAKAI, DUNIA TERGUNCANG.”
Mulai dari Penasaran, Berujung Penyesalan
Bapak-bapak kampung, yang biasanya hanya penasaran sama harga solar dan update Liga 1, kali ini tergoda. Pak Rahmat, ketua grup yasinan bapak-bapak, mengaku sebagai pembeli pertama.
“Awalnya mau iseng aja. Namanya juga magic, siapa tahu bisa ngusir pegal-pegal,” katanya sambil ngelus tengkuk.
Lalu menyusul Pak Adul, Pak Ujang, dan Pak Sardi, yang semua sepakat beli dalam diam. Tapi efeknya… bukan bikin semangat. Malah sebaliknya.
“Bukannya badan seger, ini malah makin ngantuk. Saya pikir salah pakai. Ternyata, bukan saya doang yang ngalamin,” keluh Pak Ujang sambil ngopi di pos ronda.
Tisu Magic Rasa Bayi
Setelah ditelusuri, lewat penyelidikan yang lebih dramatis dari investigasi wartawan acara kriminal, terungkap fakta mengejutkan: tisu tersebut ternyata cuma tisu basah bayi. Aromanya harum, lembut, dan mengandung lidah buaya. Satu-satunya yang ‘magic’ adalah kemampuannya bikin kulit halus.
Bayangkan kecewanya para bapak-bapak. Sudah beli dengan harapan tinggi, eh ujung-ujungnya cuma jadi lembut seperti pipi bayi. Bahkan ada yang nyesel karena udah sembunyi-sembunyi belinya dari istrinya.
“Gak enak hati kalau istri tahu saya ketipu tisu bayi,” kata Pak Sardi lirih, sambil garuk kepala yang sebenarnya gak gatal.
Sidang Darurat: Kopi Hitam dan Kerupuk Jadi Saksi
Begitu kabar ini meledak di grup WhatsApp “Info RT 003/01”, warga langsung gelar sidang darurat di pos ronda. Meja kayu panjang penuh dengan kopi hitam, gorengan, dan kerupuk bawang. Para bapak hadir dengan wajah campur aduk antara malu dan marah.
Pak RT, dengan gayanya yang santai tapi tegas, buka acara dengan satu kalimat:
“Ini bukan soal tisunya. Ini soal harga diri lelaki.”
Tawa pun pecah. Tapi semua sepakat: minimarket harus ditegur, dan kasus ini gak bisa dibiarkan.
Minimarket: Antara Niat Jualan dan Kebutaan Produk
Pemilik minimarket, Mas Deni, yang baru lulus kuliah daring marketing, mengaku tidak tahu menahu soal produk tersebut.
“Itu datang dari supplier luar kota. Saya pikir beneran tisu magic, soalnya bungkusnya keren dan ada logo kilat.”
Mas Deni minta maaf, bahkan menawarkan diskon buat siapa saja yang terlanjur beli. Tapi tetap saja, warga tak terima. Produk tisu bayi yang dikira magic itu kini disita dan dijadikan alat edukasi.
Poster Baru: Jangan Percaya Iklan Tanpa Akal Sehat
Sebagai tindak lanjut, ibu-ibu PKK bikin poster edukasi yang ditempel di depan minimarket:
“Jangan Percaya Iklan Sembarangan, Bro. Baca Komposisi Dulu, Baru Eksekusi!”
Poster bergambar tisu basah dengan efek kartun kilat itu kini viral di medsos. Banyak yang repost dengan tagar: #TisuMagicNgantuk #JanganTertipuKemasan
Anak-anak muda bahkan bikin stiker WhatsApp dari wajah para korban. Pak Adul jadi ikon paling lucu, dengan ekspresi termenung dan caption: “Bukan magic, malah mimpi.”
Efek Jangka Panjang: Trauma dan Tertawa
Sejak kejadian ini, warga jadi lebih hati-hati soal produk aneh yang dijual di sekitar. Ada yang usul bikin tim verifikasi produk sebelum dipajang di minimarket. Bahkan muncul ide untuk buat podcast kampung bertema “Produk Aneh, Review Serius”.
Tapi di balik trauma ringan itu, ada juga hikmah: kampung jadi kompak. Semua orang punya bahan cerita buat ketawa. Para bapak yang tadinya kaku, kini jadi lebih cair saat ngobrol.
Bahkan saat ronda malam, yang dibahas bukan lagi maling atau genk motor, tapi tisu magic rasa bayi.
Begini Intinya! Dari Tisu, Tumbuh Solidaritas
Kisah tisu magic abal-abal ini bukan sekadar cerita lucu, tapi juga pengingat penting: jangan gampang tergiur iklan tanpa bukti. Kemasan menarik belum tentu isi sesuai janji. Tapi di balik semua itu, yang paling berharga adalah bagaimana komunitas bisa tertawa dan belajar bareng dari kesalahan kecil.
Dan meski Pak Rahmat sampai hari ini masih jadi bahan candaan tiap malam, dia bilang, “Yang penting sekarang saya ngerti, gak semua yang magic itu… magic. Hehhhh,”[]