Beritasantai.com | Di balik gemuruh stadion megah dan kilau trofi Grand Slam, selalu ada cerita sunyi tentang keringat, disiplin, dan keyakinan yang diuji berulang kali. Kisah itu hidup dalam perjalanan Aryna Sabalenka, petenis asal Belarus yang kini berdiri sebagai peringkat nomor satu dunia tunggal putri versi WTA.
Aryna Sabalenka lahir pada 5 Mei 1998 di Minsk, ibu kota Belarus. Ia tumbuh di keluarga sederhana bersama orang tuanya, Sergey dan Yuliya Sabalenka. Lingkungan Eropa Timur yang keras dan penuh disiplin membentuk fondasi karakternya sejak dini. Dalam keterbatasan fasilitas dan cuaca dingin yang panjang, Sabalenka kecil belajar bahwa mimpi besar menuntut ketekunan yang lebih besar.
Tenis yang Datang Secara Kebetulan
Tenis bukanlah rencana hidup yang disusun sejak awal. Pada usia enam tahun, Sabalenka hanya ikut ayahnya melewati sebuah lapangan tenis. Tanpa target besar, ayahnya mengajaknya mencoba memukul bola. Momen sederhana itu ternyata menjadi titik balik hidupnya.
Bakatnya terlihat sejak sentuhan pertama. Pukulannya kuat, gerakannya alami, dan ekspresinya menunjukkan satu hal: ia menikmati permainan ini. Sang ayah, Sergey, segera menyadari potensi tersebut dan mulai mendampinginya secara serius. Dari permainan iseng, tenis berubah menjadi jalan hidup.
Peran Keluarga dan Disiplin Sejak Dini
Sergey Sabalenka menjadi figur penting dalam pembentukan mental Aryna. Ia bukan hanya ayah, tetapi juga pelatih pertama yang menanamkan nilai disiplin, fokus, dan keberanian menghadapi tekanan. Budaya olahraga Belarus yang kompetitif ikut membentuk mental juara Sabalenka sejak kecil.
Latihan keras dan rutinitas yang ketat menjadi bagian dari keseharian. Pada 2012, di usia yang masih sangat muda, Sabalenka menjalani debut profesional di ITF Circuit melalui turnamen lokal Minsk. Dua tahun kemudian, ia bergabung dengan Akademi Tenis Nasional Minsk untuk menjalani latihan yang lebih terstruktur dan serius.
Menembus Panggung Dunia WTA
Perjalanan menuju level tertinggi tenis dunia tidak berlangsung instan. Tahun-tahun awal karier profesionalnya diwarnai kekalahan, adaptasi, dan pembelajaran tanpa henti. Namun kerja keras itu mulai membuahkan hasil pada 2017, saat Sabalenka berhasil menembus jajaran 100 besar dunia WTA.
Sejak saat itu, grafik kariernya terus menanjak. Ia tampil semakin percaya diri, matang, dan konsisten. Sabalenka tidak hanya berkembang secara teknik, tetapi juga secara mental—bekal penting untuk bertahan di kerasnya persaingan tenis dunia.
Gaya Bermain Power Hitter yang Mengintimidasi
Aryna Sabalenka dikenal luas sebagai power hitter. Dengan tinggi badan 182 cm, ia mengandalkan kekuatan pukulan dan servis bertenaga untuk mendominasi poin sejak awal. Forehand-nya mampu melaju hingga 129 km/jam, bahkan mencatat kecepatan yang kerap melampaui petenis pria top dunia.
Pukulannya sering terdengar seperti dentuman keras—“bum, bum”—yang memaksa lawan bertahan jauh di belakang baseline. Rata-rata 15 winner per pertandingan menjadi bukti agresivitasnya. Backhand dua tangan yang solid serta servis variatif membuatnya sangat berbahaya di lapangan keras.
Namun gaya agresif ini juga memiliki risiko. Unforced error kerap menghantui, terutama di awal karier. Alih-alih mengubah identitas, Sabalenka memilih menyempurnakannya dengan variasi pukulan dan pengendalian emosi yang lebih baik.
Koleksi Gelar dan Dominasi di Grand Slam
Hingga 2026, Sabalenka telah mengoleksi 22 gelar tunggal WTA. Empat di antaranya adalah Grand Slam: dua kali Australian Open (2023, 2024) dan dua kali US Open (2024, 2025). Ia juga mencetak prestasi gemilang di nomor ganda, meraih dua gelar Grand Slam bersama Elise Mertens.
Selain itu, sembilan gelar WTA 1000—termasuk di Madrid dan Miami—menjadi bukti konsistensinya di level tertinggi. Prestasi ini menjadikannya petenis Belarus kedua yang sukses di Grand Slam setelah Victoria Azarenka, bahkan melampaui beberapa rekor seniornya tersebut.
Musim Emas dan Puncak Karier
Musim 2025 menjadi salah satu fase terbaik dalam karier Sabalenka. Ia memimpin tur dengan empat gelar, termasuk US Open, serta tampil sebagai runner-up di beberapa final besar seperti Australian Open dan Roland Garros. Musim ini menegaskan posisinya sebagai pemain paling dominan di era modern.
Awal 2026 pun dibuka dengan gemilang. Sabalenka menjuarai Brisbane International setelah mengalahkan Marta Kostyuk 6-4, 6-3, sekaligus meraih gelar WTA ke-22 dan melewati rekor Victoria Azarenka. Ia kembali ke peringkat satu dunia WTA dengan rekor impresif di lapangan keras.
Australian Open 2026 dan Rekor Bersejarah
Di Australian Open 2026, Sabalenka tampil luar biasa. Ia melaju ke final untuk keempat kalinya secara beruntun tanpa kehilangan satu set pun. Kemenangan atas Elina Svitolina di semifinal memperlihatkan kematangan permainan dan ketenangan mentalnya.
Pencapaian ini menyamai rekor Serena Williams dan menjadikannya favorit kuat untuk meraih gelar Grand Slam kelima. Bukan hanya soal menang, tetapi tentang bagaimana ia mengendalikan pertandingan dengan penuh keyakinan.
Lebih dari Sekadar Juara
Kisah Aryna Sabalenka bukan sekadar tentang angka, peringkat, atau trofi. Ini adalah cerita tentang seorang gadis dari Minsk yang memulai segalanya secara kebetulan, ditempa oleh disiplin keluarga, dan tumbuh melalui kegagalan serta keberanian.
Ia membuktikan bahwa kekuatan sejati tidak hanya terletak pada pukulan keras, tetapi juga pada keteguhan hati. Selama raket masih diayunkan dengan keyakinan yang sama, kisah sukses Aryna Sabalenka akan terus berlanjut—menuju bab-bab yang mungkin lebih gemilang dari yang pernah dibayangkan.[]









