Beritasantai.com | Asal Usul Kata “Santuy” yang Bikin Hidup Lebih Rileks. Pernah gak sih, lagi di tengah kekacauan hidup, terus ada temen yang nyeletuk, “Udahlah, santuy aja…”?
Kalimat sakti itu seolah punya kekuatan khusus yang bisa menenangkan jiwa lebih cepat dari teh manis anget. Tapi, sebenarnya nih ya, dari mana sih asal-usul kata “santuy” itu sendiri? Kenapa bisa begitu populer dan mendadak jadi gaya hidup nasional tak tertulis?
Yuk, duduk manis, tarik napas dalam, dan mari kita telusuri sejarah dan perjalanan viral kata yang satu ini. Santuy dulu, baru baca sampai habis.
Santuy: Plesetan yang Jadi Legenda
Kalau kamu kira “santuy” itu kata dari bahasa daerah atau hasil penelitian linguistik mutakhir, well… kamu terlalu serius.
Santuy sebenarnya cuma plesetan dari kata “santai”, yang diputar sedikit pengucapannya jadi lebih slurred, lebih alay, dan lebih “netizenable”.
Kata ini mulai ramai dipakai sekitar tahun 2018, bersamaan dengan era ledakan meme, grup Facebook absurd, dan komunitas netizen gabut yang jago menciptakan istilah baru buat lucu-lucuan.
Awalnya, kata “santuy” cuma muncul di postingan random — entah dari caption Instagram, komentar YouTube, atau thread Twitter yang isinya lebih cocok dibaca pas insomnia.
Contohnya:
“Ditinggal pas lagi sayang-sayangnya?
Yaudah sih, santuy bro. Cewek bukan cuma satu di dunia.”
Dan di situlah semuanya bermula.
Kenapa Bisa Viral? Karena +62 Gak Bisa Diam
Indonesia adalah surga bagi bahasa-bahasa baru. Dari kata “gabut”, “mager”, sampai “ciyee” — kita punya satu kemampuan unik sebagai bangsa: mengolah kata biasa jadi luar biasa.
Kata “santuy” jadi viral karena cocok sama mentalitas netizen kita yang doyan menghibur diri sendiri di tengah masalah hidup.
Mulai dari masalah negara sampai mantan ghosting, netizen Indonesia punya satu solusi: “santuy dulu aja, bro!”
Kalau kamu pernah masuk ke kolom komentar akun gosip, akun meme, atau live streaming abang-abang jualan sendal, pasti pernah lihat kata ini berseliweran seperti bumbu penyedap digital.
“Banjir depan rumah?
Santuy bro, bisa sambil mancing.”“Ujian besok belum belajar?
Santuy, yang penting ngumpulin dulu.”“Laptop meledak?
Santuy, kan masih ada warnet.”
Logika? Gak penting.
Yang penting? Tetap tenang.
Dari Meme Jadi Budaya Populer
Uniknya, kata “santuy” bukan cuma berhenti di meme dan komentar medsos. Seiring waktu, kata ini merambah ke berbagai aspek budaya populer. Mulai dari konten YouTube, podcast, sampai lagu-lagu hip hop lokal yang nadanya penuh vibes sok tenang.
Ada juga lho, kaus bertuliskan “Keep Santuy and Nyemil Aja”, yang jadi barang dagangan laris di toko online. Belum lagi channel YouTube dan TikTok yang pakai nama “Santuy” sebagai brand. Gaya hidup santai yang dulu cuma candaan, kini berubah jadi identitas generasi baru.
Influencer, selebgram, hingga politisi muda pun ikut mengadopsi gaya ini. Entah dalam bentuk caption motivasi, QnA sok bijak, atau respons terhadap kritik publik — semuanya kini dikemas dengan gaya santuy.
Santuy vs Santai: Apa Bedanya?
Meski terdengar mirip, “santuy” dan “santai” punya aura yang beda.
- Santai adalah kata baku. Artinya tenang, tidak tergesa-gesa, rileks. Digunakan di novel, naskah drama, atau pidato kepala sekolah.
- Santuy adalah versi rebel, nyeleneh, dan lebih slang. Digunakan saat nongkrong, ngebacot di medsos, atau ngeles dari pertanyaan hidup.
Contoh:
- “Hari ini aku bersantai di rumah.” → sopan, formal, agak membosankan.
- “Hari ini mah santuy aja bro, Netflix sambil ngunyah kerupuk.” → lebih relatable, lebih +62.
Jadi ya gitu… santuy adalah bentuk lebih gaul, lebih receh, tapi justru lebih dekat di hati.
Bahasa Gaul: Cermin Psikologi Bangsa?
Kalau ditelaah lebih dalam (pakai kacamata psikologi budaya), kemunculan kata “santuy” ini mencerminkan sikap bangsa kita dalam menghadapi tekanan.
Daripada stres, marah, atau overthinking, kita lebih suka menghadapi dengan humor.
Bahkan masalah serius pun sering dibalut dengan guyonan, supaya gak terlalu berat dirasakan.
Bukan berarti gak peduli, ya. Tapi kita percaya, tertawa dan bersikap santai adalah cara bertahan hidup paling waras di tengah dunia yang makin absurd.
Ketika Santuy Jadi Alasan Menunda
Tapi, tidak semua yang santuy itu sehat.
Ada juga versi “santuy berlebihan” yang malah bikin hidup jadi berantakan.
Contohnya:
“Deadline minggu depan sih… santuy dulu lah.”
(tiga jam kemudian masih scroll TikTok dan nonton prank ojol).
Atau:
“Gak punya tabungan sih… santuy aja, rezeki gak ke mana.”
(padahal cicilan udah tiga bulan nunggak).
Nah, ini yang bahaya. Santuy seharusnya jadi sikap mental positif untuk tetap tenang, bukan alasan buat males atau kabur dari tanggung jawab. Jadi, santuy boleh… tapi tetap mikir ya, bro!
Santuy, Tapi Tetap Produktif
Jadi gimana dong? Harus santuy atau serius?
Jawabannya: kombinasi.
Dalam dunia kerja, belajar, atau kehidupan sehari-hari, sikap santuy bisa jadi kunci untuk tetap waras di tengah tekanan. Tapi jangan lupakan batasnya. Santuy yang sehat itu:
- Tenang, bukan cuek.
- Rileks, tapi tetap jalan.
- Tidak panik, tapi tetap bergerak.
Ibarat kata: santuy itu gaya hidup, bukan pelarian.
Pengaruh Kata “Santuy” di Generasi Muda
Kalau kamu perhatikan, kata “santuy” kini sudah jadi bagian dari bahasa sehari-hari Gen Z dan milenial. Bahkan anak-anak sekolah dasar pun sudah tahu artinya.
Di media sosial, kata ini jadi semacam “penetral rasa.” Kalau postinganmu terlalu galau, tinggal tambahin caption:
“Santuy aja, semua akan baik-baik saja.”
Kalau lagi debat panas, tinggal balas komentar pakai:
“Waduh, udah panas banget nih. Santuy dulu yuk!”
Secara tidak langsung, kata ini jadi alat sosial yang fungsinya mirip emotikon atau stiker lucu: mengurangi ketegangan dan membangun suasana ramah.
Santuy dalam Budaya Digital
Di era digital seperti sekarang, di mana semua serba cepat dan mudah meledak, kata “santuy” seolah menjadi simbol perlawanan kecil terhadap dunia yang terlalu serius.
Mulai dari:
- Judul podcast: “Ngobrol Santuy Bareng Temen Lama”
- Konten YouTube: “Reaksi Santuy Nonton Film Horror”
- Caption jualan online: “Santuy aja, COD bisa kok!”
Santuy bukan cuma kata. Dia udah berubah jadi genre, tone, bahkan strategi komunikasi.
Brand besar pun banyak yang mulai pakai gaya santuy biar lebih dekat dengan pasar muda.
Gini Intinya! Santuy, Tapi Tetap Tanggung Jawab
Kata “santuy” mungkin lahir dari iseng dan iseng dari kebanyakan gabut. Tapi siapa sangka, dalam waktu singkat dia bertransformasi dari plesetan jadi filosofi hidup.
Hidup memang penuh tekanan. Tapi bukan berarti harus selalu tegang.
Santuy bukan solusi semua masalah, tapi kadang dia cukup untuk bikin kita bernapas, berpikir ulang, dan berkata: “Yah, hidup gak seganas itu, kok.”
Jadi buat kamu yang lagi galau, bingung, atau hampir menyerah…
Santuy dulu, bro. Tapi habis itu, tetap jalan.[]